Weekly Market Update | WEEK 1 JUNE '26
Pasar Global Menguat Didorong Tren AI, Investor Tetap Waspadai Risiko Geopolitik
Pasar keuangan global kembali melanjutkan tren penguatan pada pekan terakhir Mei 2026. Optimisme investor masih didorong oleh perkembangan industri Artificial Intelligence (AI) yang terus menjadi motor utama pertumbuhan sektor teknologi dunia. Di tengah tingginya minat terhadap investasi AI, pasar juga tetap mencermati berbagai risiko eksternal, termasuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
AI Menjadi Katalis Utama Penguatan Pasar Global
Indeks saham utama Amerika Serikat kembali mencatat kenaikan dengan Dow Jones menguat 0,09% ke level 51.032. Sementara itu, S&P 500 dan Nasdaq masing-masing naik 0,26% dan 0,20%, sekaligus memperpanjang pencapaian rekor tertinggi baru.
Sentimen positif didukung oleh peluncuran teknologi AI terbaru dari Nvidia dan Microsoft yang memperkuat ekspektasi bahwa belanja infrastruktur AI, permintaan semikonduktor, serta adopsi perangkat lunak berbasis AI masih akan menjadi pendorong utama pertumbuhan laba perusahaan global dalam beberapa tahun ke depan.
Meski demikian, investor tetap memantau perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Jalur diplomasi yang masih berlangsung belum sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global akibat meningkatnya aktivitas militer di kawasan Timur Tengah.
Insight: Tema AI masih menjadi penggerak utama pasar global. Namun, ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve berpotensi menjadi sumber volatilitas dalam jangka pendek.
Kinerja Bursa Global Didukung Ketahanan Ekonomi AS
Pasar saham Amerika Serikat memperoleh dukungan tambahan dari data manufaktur yang kembali menunjukkan ekspansi selama lima bulan berturut-turut. Kondisi tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa aktivitas ekonomi AS masih berada dalam kondisi yang cukup solid.
Di kawasan Eropa, pergerakan pasar cenderung beragam. FTSE 100 turun 0,16%, CAC 40 melemah 0,07%, sementara DAX Jerman naik tipis 0,05%.
Sementara itu, pasar Asia mencatat kinerja yang lebih kuat. Indeks Kospi Korea Selatan melonjak 3,55%, sedangkan Nikkei Jepang naik 2,53%, didorong sentimen risk-on global dan penguatan saham-saham teknologi.
Pelaku pasar saat ini menantikan rilis data tenaga kerja Amerika Serikat serta sinyal lanjutan dari Federal Reserve terkait arah kebijakan moneter beberapa bulan mendatang.
Insight: Ketahanan ekonomi AS dan tren investasi AI masih mendukung prospek pasar saham global. Namun, ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama (higher for longer) berpotensi membatasi ruang penguatan pasar.
Kebijakan DHE Berpotensi Memperkuat Stabilitas Rupiah
Dari dalam negeri, pemerintah mulai menerapkan aturan baru terkait Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) melalui PP No. 21 Tahun 2026. Regulasi tersebut mewajibkan eksportir non-migas untuk menempatkan 100% devisa hasil ekspor di dalam negeri selama minimal 12 bulan.
Pemerintah memperkirakan kebijakan ini mampu menambah likuiditas devisa hingga sekitar USD 2 miliar per bulan serta membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika pasar global.
Sejumlah indikator ekonomi domestik juga masih menunjukkan kondisi yang relatif stabil. Bank Indonesia mempertahankan BI Rate pada level 5,25%, inflasi tahunan berada di 2,42%, sementara surplus neraca perdagangan tercatat sebesar USD 3,32 miliar. Di sisi lain, PMI Manufaktur berada pada level 49,1 yang mengindikasikan aktivitas manufaktur masih mengalami kontraksi ringan.
Insight: Implementasi kebijakan DHE berpotensi menjadi katalis positif bagi stabilitas rupiah dan likuiditas perbankan domestik, terutama ketika volatilitas global masih relatif tinggi.
IHSG Stabil di Tengah Volatilitas Rebalancing MSCI
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup relatif stabil di level 6.127 meskipun pasar masih menghadapi volatilitas akibat proses rebalancing MSCI yang mendorong reposisi portofolio investor asing pada sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Sentimen domestik turut membaik setelah harga minyak dunia mengalami koreksi dari level tertingginya seiring meningkatnya harapan terhadap tercapainya kesepakatan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran. Penurunan harga energi membantu meredakan kekhawatiran terhadap inflasi, defisit transaksi berjalan, dan potensi peningkatan beban subsidi energi pemerintah.
Secara sektoral, sektor Infrastruktur naik 2,89%, Basic Materials menguat 2,65%, dan sektor Energi bertambah 1,95%, menjadi kontributor utama penguatan pasar.
Nilai transaksi harian melonjak menjadi Rp50,15 triliun. Aktivitas tersebut mengindikasikan adanya akumulasi institusi pada sejumlah saham melalui transaksi crossing dalam jumlah besar, termasuk pada saham SUPA dan AMMN.
Insight: Tekanan dari rebalancing MSCI mulai mereda dan aktivitas akumulasi institusi mulai terlihat. Stabilitas harga minyak akan menjadi faktor penting yang menentukan keberlanjutan rebound IHSG dalam jangka pendek.
Outlook Kebijakan The Fed Masih Menjadi Fokus Utama
Pasar saat ini masih memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter yang relatif ketat lebih lama dibandingkan ekspektasi awal. Ketahanan ekonomi AS yang masih solid serta ketidakpastian geopolitik menjadi faktor utama yang mendukung pandangan tersebut.
Walaupun harga minyak telah mengalami koreksi, risiko inflasi energi belum sepenuhnya hilang karena konflik di Timur Tengah masih berlangsung dan negosiasi antara AS dan Iran belum mencapai kesepakatan final.
Dalam beberapa pekan mendatang, perhatian investor akan tertuju pada data ketenagakerjaan AS, perkembangan inflasi, serta komunikasi terbaru dari pejabat Federal Reserve.
Insight: Prospek suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama masih menjadi salah satu risiko utama bagi aset berisiko, khususnya pasar negara berkembang (emerging markets).
Faktor yang Perlu Dicermati Investor
Beberapa faktor yang berpotensi memengaruhi arah pasar dalam jangka pendek antara lain:
- Perkembangan negosiasi AS–Iran
- Pergerakan harga minyak dunia
- Arus modal asing ke Indonesia
- Implementasi kebijakan DHE SDA
- Pergerakan nilai tukar rupiah
- Yield US Treasury
- Data ketenagakerjaan Amerika Serikat
- Kebijakan Federal Reserve
- Perkembangan konflik Timur Tengah
- Stabilitas transaksi berjalan Indonesia
Strategi Investasi dan Outlook
Pasar diperkirakan masih bergerak volatil dalam jangka pendek. Namun demikian, peluang stabilisasi mulai terbuka seiring berkurangnya tekanan rebalancing MSCI dan koreksi harga minyak dari level tertinggi.
Dalam kondisi pasar saat ini, strategi investasi yang dapat dipertimbangkan meliputi:
- Fokus pada saham defensif dan emiten dengan dividend yield menarik.
- Selektif pada saham sektor komoditas yang masih mendapat dukungan harga energi global.
- Memanfaatkan koreksi pasar untuk melakukan akumulasi bertahap pada saham blue chip berkualitas.
- Menjaga tingkat likuiditas yang memadai di tengah ketidakpastian geopolitik global.
- Mencermati peluang pada sektor infrastruktur dan material dasar yang menunjukkan momentum penguatan.
Danapathi Asset Management meyakini bahwa disiplin investasi dan pendekatan selektif tetap menjadi kunci dalam menghadapi dinamika pasar yang dipengaruhi kombinasi faktor global maupun domestik sepanjang tahun 2026.