Weekly Market Update | WEEK 5 AUGUST'26
31 Agustus 2026
Pasar keuangan Indonesia bergerak cukup volatil sepanjang pekan 24–28 Agustus 2026. IHSG sempat terkoreksi 1,48% pada Rabu (26/8) akibat meningkatnya kehati-hatian investor terhadap risiko domestik. Namun, pasar kembali menguat pada Kamis (27/8) dengan kenaikan 1,81% ke level 6.521,75, didukung oleh penguatan sektor perindustrian, konsumer nonprimer, dan energi.
Pada Jumat (28/8), IHSG ditutup di level 6.518,12 atau melemah tipis 0,06% secara harian. Meski demikian, IHSG masih mencatatkan kenaikan 0,38% secara mingguan. Sektor perbankan turut menahan tekanan pasar, sementara JII sebagai indeks syariah mengalami penurunan 0,81%.
Pergerakan pasar juga dipengaruhi oleh rebalancing MSCI Agustus yang berlaku efektif pada akhir bulan serta perhatian investor terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed setelah simposium Jackson Hole.
Pasar Obligasi
Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik tipis 5 basis points menjadi 7,01% pada Senin (31/8), setelah sebelumnya berada di sekitar level 7,00% pada Jumat (28/8).
Dalam sebulan terakhir, yield SBN 10 tahun masih mengalami penurunan sebesar 0,37 poin. Namun, secara tahunan yield masih 0,67 poin lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa premi risiko fiskal dan eksternal masih belum sepenuhnya mereda, meskipun tren jangka pendek mulai membaik.
Dari sisi arus dana, investor asing mencatatkan net outflow sebesar US$65 juta di pasar obligasi dalam sepekan. Angka tersebut membalikkan tren inflow year-to-date yang masih berada di level positif sebesar US$1,56 miliar.
SRBI dan Likuiditas Pasar
Bank Indonesia menyerap Rp24 triliun melalui lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada Jumat (28/8), dari total penawaran yang masuk sebesar Rp43,5 triliun.
Tingginya penawaran menunjukkan minat investor yang tetap kuat terhadap instrumen moneter domestik di tengah ketidakpastian arah suku bunga global. SRBI juga terus berperan dalam mendukung stabilitas nilai tukar dan menjaga likuiditas pasar domestik.
Pergerakan Harga Emas
Harga emas mencatatkan kinerja negatif sepanjang pekan. Harga emas sempat menyentuh US$4.650 per ounce pada awal pekan, yang menjadi level tertinggi sejak pertengahan Mei.
Namun, harga kemudian berbalik turun cukup tajam dan berada di kisaran US$4.560–4.580 per ounce pada Jumat (28/8), sekaligus menjadi level terendah dalam sepekan.
Pergerakan tersebut terjadi setelah pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole dinilai bernada hawkish. Pernyataan tersebut menekankan bahwa tekanan inflasi masih belum menunjukkan penurunan yang signifikan.
Outlook Pasar
Pergerakan pasar keuangan ke depan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan kebijakan moneter global, khususnya arah suku bunga The Fed, serta kondisi risiko domestik dan arus dana investor asing.
Di pasar saham, penguatan IHSG pada akhir pekan menunjukkan bahwa minat beli masih terjaga meskipun volatilitas tetap tinggi. Sementara itu, pasar obligasi masih menghadapi tekanan dari arus dana asing dan premi risiko, meskipun penurunan yield secara bulanan memberikan sinyal perbaikan dalam jangka pendek.
Di sisi lain, pergerakan harga emas akan tetap sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga dan komunikasi kebijakan The Fed.
Sumber: PHEI, Trading Economics, dan Danapathi Asset Management.