Weekly Market Update | WEEK 4 AUGUST'26

Publikasi Artikel Investasi, Berita Pasar, dan Edukasi Investor dari Danapathi Asset Management.

Riset
Berita
24 Aug 2026
Weekly Market Update | WEEK 4  AUGUST'26

Weekly Market Update | WEEK 4 AUGUST'26

Jakarta, Danapathi.co.id

Pasar Saham: IHSG Menguat 1,94%

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan sebesar 1,94% sepanjang pekan 18–21 Agustus 2026, dari 6.401,88 menjadi 6.525,69. Sejalan dengan kenaikan indeks, kapitalisasi pasar saham Indonesia meningkat 1,82% menjadi Rp11.448 triliun.

Penguatan IHSG terutama terlihat pada Kamis (20/8), ketika indeks melonjak 1,68% dan berhasil menembus level 6.500. Momentum positif berlanjut pada Jumat (21/8) dengan kenaikan 0,37%.

Kinerja tersebut turut didukung oleh penguatan saham sektor perbankan serta pergerakan Rupiah. Rupiah menguat ke sekitar Rp17.685 per dolar AS, seiring dengan penurunan yield obligasi pemerintah AS yang meningkatkan sentimen terhadap aset berisiko.

Pasar Obligasi: Yield SBN Relatif Stabil

Di pasar obligasi domestik, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun sempat turun ke level 6,93% pada 20 Agustus dari 7,04% pada hari sebelumnya. Penurunan tersebut berlangsung di tengah keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75% serta meningkatnya aliran dana asing.

Namun, yield SBN 10 tahun kembali meningkat tipis sebesar 3 basis poin menjadi 6,96% pada 21 Agustus. Dalam satu bulan terakhir, yield masih tercatat turun sekitar 0,34 poin, meskipun secara tahunan masih berada 0,59 poin lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di pasar global, pergerakan obligasi Jepang menjadi perhatian. Yield Japanese Government Bond (JGB) tenor 10 tahun sempat mencapai 2,945% pada 18 Agustus, level tertinggi sejak September 1996. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran inflasi serta ekspektasi bahwa Bank of Japan (BOJ) dapat kembali menaikkan suku bunga.

Ekonomi Global: Investor Menanti Arah Kebijakan The Fed

Perhatian investor global saat ini tertuju pada pasar obligasi AS dan arah kebijakan Federal Reserve. Yield Treasury AS tenor 10 tahun berada di sekitar 4,71% setelah mengalami penurunan, sementara pasar masih mencermati perkembangan inflasi, kondisi fiskal, dan kebijakan moneter AS.

Fokus utama pekan ini adalah pidato Gubernur Federal Reserve Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole pada Jumat. Investor akan mencari indikasi mengenai bagaimana The Fed merespons inflasi yang masih berada di atas target 2%, sekaligus menghadapi meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Amerika Serikat.

Utang pemerintah AS yang telah melampaui US$40 triliun juga menjadi salah satu perhatian utama pasar. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap yield obligasi jangka panjang dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.

Dengan demikian, perkembangan kebijakan The Fed dan arah yield Treasury AS masih menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan investor, terutama karena perubahan yield global dapat memengaruhi arus modal dan pergerakan nilai tukar di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Komoditas: Batubara Stabil di Tengah Ketidakpastian Geopolitik

Di pasar komoditas, harga batubara termal berjangka relatif stabil di sekitar US$130 per ton pada pertengahan Agustus. Pergerakan harga masih dipengaruhi oleh tingginya harga energi serta ketidakpastian geopolitik, khususnya perkembangan konflik di Timur Tengah dan kondisi di sekitar Selat Hormuz.

Di sisi lain, Tiongkok terus mendorong modernisasi industri pertambangan. Pemerintah menargetkan 87% kapasitas tambang berasal dari tambang besar yang telah dimodernisasi serta 75% berasal dari tambang cerdas pada 2030.

Kebijakan tersebut menunjukkan upaya Tiongkok untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan keselamatan industri pertambangan, sekaligus berpotensi memengaruhi struktur pasokan komoditas dalam jangka panjang.

Outlook Pasar

Memasuki pekan berikutnya, investor akan mencermati beberapa faktor utama, mulai dari arah kebijakan The Fed, pergerakan yield Treasury AS, perkembangan nilai tukar Rupiah, hingga dinamika geopolitik global.

Bagi pasar domestik, stabilitas Rupiah, arus dana asing, serta ekspektasi terhadap kebijakan Bank Indonesia akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah IHSG dan pasar obligasi.

Di tengah kondisi pasar yang masih dinamis, investor perlu tetap memperhatikan profil risiko, tujuan investasi, serta diversifikasi portofolio. Pergerakan pasar jangka pendek dapat berubah dengan cepat seiring munculnya data ekonomi dan kebijakan baru.

Danapathi Asset Management akan terus memantau perkembangan pasar dan menghadirkan Weekly Market Update sebagai referensi bagi investor dalam memahami dinamika pasar keuangan Indonesia dan global.