Weekly Market Update | WEEK 1 SEPTEMBER'26
Pasar keuangan Indonesia bergerak positif sepanjang pekan 31 Agustus–4 September 2026. IHSG menguat 1,82% dari level 6.518,12 menjadi 6.636,47. Penguatan terutama didorong oleh sektor industri yang naik 6,53%, energi 4,51%, dan teknologi 4,04%, serta didukung penguatan Rupiah dan net buy asing sebesar Rp2,3 triliun, terutama pada saham perbankan besar.
Secara regional, MSCI ASEAN naik 0,93%, sementara Nikkei melemah 2,09%. Pergerakan tersebut mencerminkan kinerja IHSG yang relatif lebih kuat di tengah dinamika pasar global yang bervariasi. Meski demikian, investor asing masih mencatatkan net sell secara kumulatif sepanjang September 2026, sehingga keberlanjutan inflow menjadi salah satu faktor penting bagi penguatan pasar berikutnya.
Pasar Obligasi
Yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun naik menjadi 7,17% pada 7 September 2026, meningkat 7 basis points dari sesi sebelumnya. Dalam sebulan terakhir, yield masih turun 2 basis points, namun tetap 75 basis points lebih tinggi dibandingkan setahun lalu.
Kenaikan yield tersebut mengacu pada kuotasi yield antarbank di pasar over-the-counter (OTC) untuk obligasi pemerintah tenor 10 tahun. Kenaikan yield turut meningkatkan beban bunga dan biaya pembiayaan pemerintah, terutama karena kebutuhan penerbitan utang yang semakin besar.
Per 30 Juli 2026, utang pemerintah mencapai Rp10.294 triliun atau sekitar 41,26% dari PDB, dengan Rp8.967 triliun di antaranya berbentuk Surat Berharga Negara (SBN).
Kondisi Ekonomi
Kementerian Keuangan memperpanjang jatuh tempo penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp200 triliun di bank-bank Himbara hingga Juli 2027. Kebijakan tersebut diharapkan dapat mengurangi tekanan likuiditas dalam jangka pendek.
Di sisi lain, penempatan dana tersebut seiring dengan kenaikan Loan to Deposit Ratio (LDR) Himbara menjadi 90,93% pada Juni 2026, meningkat dari 89,43% pada Desember 2025.
Komoditas
Harga batu bara menguat hingga menembus US$145 per ton pada awal September dan mencapai level tertinggi dalam 11 minggu. Penguatan harga didorong oleh meningkatnya permintaan energi global serta risiko pasokan yang masih berlanjut.
Kenaikan tersebut terjadi meskipun China melaporkan bahwa tenaga surya kini menjadi sumber kapasitas listrik terbesar di negara tersebut. Untuk pertama kalinya, kapasitas pembangkit berbasis batu bara berada di bawah kapasitas pembangkit listrik tenaga surya, seiring dengan percepatan transisi energi terbarukan.
Namun, batu bara masih menjadi sumber pembangkit listrik terbesar di dunia, dengan produksi hampir 11.000 TWh pada 2026.
Outlook Pasar
Penguatan IHSG sepanjang pekan menunjukkan momentum positif yang didukung oleh penguatan sejumlah sektor utama serta masuknya dana asing secara mingguan. Namun, investor tetap perlu memperhatikan keberlanjutan arus dana asing karena secara kumulatif investor asing masih mencatatkan net sell pada September 2026.
Di pasar obligasi, kenaikan yield SBN menunjukkan masih adanya tekanan terhadap biaya pembiayaan pemerintah. Sementara itu, pergerakan harga batu bara akan tetap dipengaruhi oleh permintaan energi global, kondisi pasokan, serta perkembangan transisi energi.
Sumber: Danapathi Asset Management
Dipublikasikan oleh Danapathi Asset Management melalui danapathi.co.id
Artikel ini merupakan bagian dari publikasi edukasi dan informasi investasi yang disediakan untuk membantu investor memahami pasar modal, produk investasi, serta layanan keuangan secara profesional, transparan, dan terpercaya.