Weekly Market Update | WEEK 4 MEI '26

Publikasi Artikel Investasi, Berita Pasar, dan Edukasi Investor dari Danapathi Asset Management.

Admin
Berita
26 May 2026
Weekly Market Update | WEEK 4 MEI '26

Weekly Market Update | WEEK 4 MEI '26

Jakarta, Danapathi.co.id

Sentimen Global Mulai Stabil, Pasar Fokus pada Negosiasi AS–Iran dan Arah Kebijakan The Fed

Sentimen pasar global mulai menunjukkan perbaikan setelah muncul optimisme terkait potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang dapat membuka kembali Selat Hormuz dan meredakan gangguan pasokan energi global.

Harapan tersebut mendorong harga minyak dunia turun cukup tajam. Harga minyak WTI terkoreksi sekitar 5% menuju level USD91 per barel seiring ekspektasi normalisasi supply energi global. Meski demikian, Donald Trump menegaskan bahwa blokade Selat Hormuz masih akan dipertahankan hingga kesepakatan resmi benar-benar tercapai.

Di sisi lain, pasar juga mulai mencermati perubahan arah komunikasi kebijakan moneter Federal Reserve setelah Gubernur The Fed, Christopher Waller, menyatakan bahwa bank sentral AS tidak lagi perlu mempertahankan bias dovish dalam kebijakan moneternya.

Sementara itu, harga emas rebound menuju USD4.600 per ounce, meskipun masih berada sekitar 13% di bawah puncak saat konflik Timur Tengah memanas. Penurunan kekhawatiran terhadap inflasi energi global menjadi salah satu faktor yang menahan kenaikan harga emas lebih lanjut.

Secara umum, meredanya tensi geopolitik mulai memperbaiki risk sentiment global, namun pasar masih menghadapi ketidakpastian terkait arah kebijakan The Fed dan stabilitas energi global.

Pasar Saham Global Menguat, Investor Pantau Data Ekonomi AS

Pasar saham global bergerak lebih positif pada awal pekan. US stock futures menguat seiring meningkatnya optimisme bahwa AS dan Iran semakin dekat menuju kesepakatan yang berpotensi membuka kembali jalur distribusi energi global melalui Selat Hormuz.

Optimisme tersebut membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap inflasi energi dan potensi kenaikan suku bunga lanjutan dari The Fed. Namun demikian, negosiasi beberapa poin utama masih berlangsung sehingga pasar tetap bergerak hati-hati.

Aktivitas perdagangan global juga relatif lebih sepi karena pasar Amerika Serikat tutup dalam rangka public holiday.

Pada pekan sebelumnya, indeks Dow Jones naik 2,13%, S&P 500 menguat 0,88%, dan Nasdaq bertambah 0,45%. Penguatan tersebut didukung optimisme meredanya konflik Timur Tengah dan solidnya laporan keuangan emiten besar Amerika Serikat.

Investor kini mulai mengalihkan fokus pada sejumlah data ekonomi penting AS seperti PCE inflation, GDP, personal income and spending, serta laporan kinerja perusahaan teknologi seperti Zscaler, Salesforce, dan Dell Technologies.

Fundamental Indonesia Relatif Stabil di Tengah Tekanan Eksternal

Dari sisi domestik, fundamental ekonomi Indonesia masih relatif stabil. Inflasi tahunan tercatat sebesar 2,42% dengan inflasi inti sebesar 2,44%, sementara cadangan devisa Indonesia tetap kuat di level USD146,2 miliar.

Neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus sebesar USD3,32 miliar. Selain itu, beberapa indikator konsumsi domestik juga menunjukkan perbaikan, seperti penjualan motor yang tumbuh 28,1% YoY dan penjualan mobil yang melonjak 55% YoY.

Meski demikian, tekanan eksternal masih cukup tinggi seiring pelebaran current account deficit dan pelemahan rupiah yang masih berada di sekitar Rp17.700 per dolar AS.

IHSG Mulai Rebound, Namun Tekanan Rupiah Masih Membatasi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan rebound menuju level 6.168 setelah sebelumnya mengalami tekanan tajam akibat lonjakan harga energi dan capital outflow asing.

Sentimen pasar membaik mengikuti penguatan pasar global dan penurunan harga minyak dunia. Namun, penguatan IHSG masih terbatas akibat kekhawatiran terhadap pelebaran current account deficit Indonesia yang menjadi terdalam dalam lebih dari enam tahun terakhir.

Pelaku pasar juga mencermati langkah Prabowo Subianto dalam membentuk centralized export agency yang dinilai berpotensi meningkatkan biaya tambahan bagi perusahaan eksportir domestik.

Di sisi lain, Bank Indonesia sebelumnya kembali menaikkan suku bunga secara agresif untuk menjaga stabilitas rupiah.

Beberapa saham yang menjadi top movers pada pekan ini antara lain Surya Citra Media naik 4,5%, Bank Rakyat Indonesia menguat 3,0%, Bukit Asam naik 2,6%, dan United Tractors bertambah 1,5%.

Pergerakan IHSG mulai menunjukkan stabilisasi jangka pendek didukung penurunan harga minyak global, meskipun tekanan eksternal dan pelemahan rupiah masih membatasi aliran dana asing ke emerging markets termasuk Indonesia.

Outlook Pasar dan Strategi Investasi

Pasar global diperkirakan masih bergerak volatil, namun mulai memasuki fase stabilisasi jangka pendek setelah tekanan energi global mulai mereda.

Investor tetap perlu mencermati perkembangan negosiasi AS–Iran, pergerakan rupiah, arus modal asing, harga minyak global, yield US Treasury, hingga arah kebijakan Bank Indonesia dan The Fed.

Dalam kondisi pasar saat ini, Danapathi Asset Management melihat strategi defensif masih relevan dengan fokus pada saham defensif dan high dividend, menjaga likuiditas, serta mencermati peluang rebound pada sektor cyclical domestik.

Sementara itu, investor disarankan lebih selektif terhadap saham yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap pelemahan rupiah dan volatilitas global.