Weekly Market Update | WEEK 3 MEI '26

Publikasi Artikel Investasi, Berita Pasar, dan Edukasi Investor dari Danapathi Asset Management.

Marketing
Berita
18 May 2026
Weekly Market Update | WEEK 3 MEI '26

Weekly Market Update | WEEK 3 MEI '26

Jakarta, Danapathi.co.id

Pasar keuangan global masih berada dalam tekanan akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga energi dunia. Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali menjadi perhatian utama investor setelah negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran mengalami kebuntuan. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memperingatkan Iran untuk segera mencapai kesepakatan dengan Washington, sementara tensi di kawasan Teluk Persia meningkat setelah serangan terhadap infrastruktur energi regional.

Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dan energi global yang mulai memicu tekanan inflasi di berbagai negara. Yield US Treasury kembali meningkat setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan tekanan harga semakin meluas akibat kenaikan biaya energi. Pasar saat ini juga menantikan laporan kinerja perusahaan besar seperti Nvidia, Walmart, dan Target untuk melihat ketahanan konsumsi masyarakat AS di tengah tingginya inflasi dan biaya energi.

Secara umum, pasar global kembali memasuki fase risk-off dengan volatilitas yang meningkat akibat kombinasi risiko geopolitik, inflasi energi, dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih hawkish.

Di pasar saham global, mayoritas indeks mengalami pelemahan. Bursa saham Amerika Serikat terkoreksi setelah yield Treasury naik tajam dan pelaku pasar mulai menghapus ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve pada tahun ini. Pasar Asia juga mengalami tekanan akibat lemahnya data ekonomi China serta kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global. Sementara itu, pasar Eropa bergerak lebih defensif di tengah meningkatnya tensi geopolitik dan kenaikan harga minyak dunia.

Sektor teknologi masih menjadi perhatian utama investor, terutama melalui laporan kinerja perusahaan berbasis kecerdasan buatan (AI). Namun demikian, kenaikan yield obligasi global mulai membatasi minat investor terhadap aset berisiko.

Dari sisi domestik, fundamental ekonomi Indonesia masih relatif stabil. Inflasi tahunan tercatat sebesar 2,42%, sedangkan inflasi inti berada di level 2,44%. Neraca perdagangan Indonesia juga masih mencatat surplus sebesar USD3,32 miliar. Namun, tekanan eksternal terhadap rupiah mulai meningkat seiring penguatan dolar AS dan kenaikan harga energi global.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah sekitar 2,8% ke level 6.535 dan mencatat penurunan selama lima sesi perdagangan berturut-turut, menjadi level terendah sejak pertengahan 2025. Sentimen negatif berasal dari koreksi Wall Street, meningkatnya risiko konflik Timur Tengah, serta kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global.

Tekanan tambahan datang dari pelemahan ekonomi China setelah data industrial output dan retail sales mencatat pertumbuhan terendah dalam beberapa tahun terakhir. Pelaku pasar domestik juga mulai mencermati peluang kenaikan suku bunga Bank Indonesia menuju level 5% guna menjaga stabilitas rupiah yang telah melemah di atas Rp17.600 per dolar AS.

Beberapa saham yang menjadi penekan utama IHSG antara lain saham Amman Mineral Internasional yang turun 12,7%, Aneka Tambang melemah 7,4%, Indosat Ooredoo Hutchison turun 6,3%, dan Vale Indonesia yang terkoreksi 5,1%.

Pergerakan IHSG dinilai masih sangat sensitif terhadap sentimen global dan stabilitas rupiah, dengan tekanan dana asing yang berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.

Dari sisi Amerika Serikat, yield US Treasury tenor 10 tahun naik menuju level 4,63%, tertinggi sejak Januari 2025, setelah data CPI dan PPI menunjukkan tekanan inflasi yang lebih tinggi akibat lonjakan harga energi. Pasar kini mulai memperkirakan suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama dan bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun.

Fokus investor selanjutnya tertuju pada risalah FOMC serta data Flash PMI Amerika Serikat untuk melihat arah kebijakan moneter berikutnya. Lingkungan suku bunga tinggi dalam jangka panjang berpotensi menjaga yield global dan dolar AS tetap kuat sehingga memberi tekanan tambahan pada emerging markets, termasuk Indonesia.

Ke depan, pasar diperkirakan masih bergerak volatil dalam jangka pendek seiring meningkatnya risiko geopolitik dan tekanan global yield. Dalam kondisi seperti ini, strategi investasi defensif dinilai lebih relevan dengan tetap menjaga likuiditas dan selektif terhadap sektor-sektor yang memiliki fundamental kuat.

Danapathi Asset Management menilai investor perlu fokus pada saham defensif, menjaga likuiditas di tengah volatilitas tinggi, serta mencermati peluang pada sektor komoditas energi dan potensi technical rebound jangka pendek. Sementara itu, eksposur berlebih pada saham high beta dan sektor yang sensitif terhadap suku bunga perlu lebih dicermati.