Weekly Market Update | WEEK 3 JULY'26

Publikasi Artikel Investasi, Berita Pasar, dan Edukasi Investor dari Danapathi Asset Management.

Riset
Berita
20 Jul 2026
Weekly Market Update | WEEK 3 JULY'26

Weekly Market Update | WEEK 3 JULY'26

Jakarta, Danapathi.co.id

Weekly Market Update | 20 Juli 2026

Stock Market

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kinerja positif sepanjang periode 13–17 Juli 2026 dengan menguat secara akumulatif 4,24%, bergerak naik dari penutupan 6.023,83 pada Senin, 6.039,48 pada Selasa, 6.049,15 pada Rabu, 6.096,88 pada Kamis, dan ditutup melonjak 1,10% pada Jumat di level 6.179,46. Penguatan ini mendorong kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) meningkat sekitar Rp409 triliun menjadi Rp10.749 triliun, dengan rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp13,99 triliun. Seluruh 11 sektor di BEI berakhir di zona hijau, dipimpin sektor barang baku (basic materials) yang naik 5,47%, diikuti sektor barang konsumen siklikal dan energi, mencerminkan sentimen positif yang meluas di pasar saham domestik.

Bond Market

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun naik menjadi 7,27% pada 17 Juli 2026, meningkat 3 basis poin dibandingkan sesi sebelumnya. Dalam sebulan terakhir, yield telah naik 30 basis poin, sementara secara tahunan meningkat 72 basis poin, berdasarkan kuotasi imbal hasil obligasi pemerintah di pasar antarbank over-the-counter (OTC). Kenaikan yield tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan di pasar obligasi, yang umumnya dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi, inflasi, maupun perubahan sentimen investor terhadap aset pendapatan tetap.

Economic Update

Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 6% dalam Rapat Dewan Gubernur Juli 2026 seiring meningkatnya tekanan inflasi dan pelemahan nilai tukar rupiah. Kepala Ekonom Bank Danamon Indonesia menilai inflasi yang mendekati batas atas target BI serta depresiasi rupiah menjadi faktor utama yang mendorong pengetatan kebijakan moneter, dengan terminal rate diproyeksikan mencapai 6,25%. Meski aktivitas manufaktur masih melemah, produsen mulai meneruskan kenaikan biaya bahan baku, transportasi, dan energi ke harga jual, sehingga tekanan inflasi dinilai semakin meningkat meskipun permintaan domestik belum pulih sepenuhnya.

Business Update

Investasi hilirisasi bauksit berhasil melampaui nikel pada kuartal II 2026 dengan nilai Rp40,1 triliun, menandai pergeseran peta investasi hilirisasi nasional di tengah upaya diversifikasi komoditas strategis. Meski demikian, nikel tetap menjadi sektor hilirisasi terbesar sepanjang semester I 2026 dengan realisasi investasi mencapai Rp71 triliun, mencerminkan industri yang telah memasuki fase lebih matang. Pemerintah menilai pergeseran ini sebagai bagian dari perluasan hilirisasi ke komoditas lain seperti bauksit, kelapa sawit, karet, kayu, dan pasir silika, sementara kalangan ekonom mengingatkan pentingnya pendalaman industri nikel agar menghasilkan nilai tambah dan lapangan kerja yang lebih besar.

DAM Research