Weekly Market Update | WEEK 2 SEPTEMBER'26
Pasar saham Indonesia mengalami pelemahan pada pekan 7–11 September 2026. IHSG turun 1,43% dari level 6.636,47 menjadi 6.541,38. Tekanan terutama berasal dari sektor consumer cyclicals yang turun 3,17%, teknologi 3,14%, dan properti 2,62%. Sementara itu, sektor industri menguat 2,03% dan kesehatan naik 1,49%.
Tekanan terhadap pasar saham domestik turut dipengaruhi oleh aksi jual investor asing dengan net sell sebesar Rp3,36 triliun. Saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BYCA, dan BBRI menjadi beberapa saham yang memberikan tekanan terhadap indeks. Secara regional, mayoritas pasar Asia juga melemah di tengah lonjakan harga minyak dari US$100 per barel dan meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi serta suku bunga global.
Di pasar obligasi, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun meningkat sekitar 5 basis poin sepanjang pekan menjadi 7,16%. Kenaikan tersebut seiring dengan meningkatnya tekanan pada pasar obligasi global, dengan yield US Treasury 10 tahun melonjak sekitar 19 basis poin menjadi 4,97% dan sempat menyentuh 5,00%. Kenaikan yield US Treasury terutama dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan inflasi akibat lonjakan harga minyak serta ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed.
Meskipun demikian, pergerakan SBN relatif lebih terbatas dibandingkan US Treasury, dengan spread yield Indonesia–AS menyempit dari sekitar 232 basis poin menjadi 219 basis poin.
Dari sisi ekonomi domestik, keyakinan konsumen Indonesia meningkat pada Agustus 2026. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) naik menjadi 118,5 dibandingkan bulan sebelumnya, didukung oleh meningkatnya keyakinan terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi konsumen.
Di sisi eksternal, cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi US$146,5 miliar dari US$145,3 miliar pada Juli. Peningkatan tersebut antara lain didukung oleh pembiayaan 5,4 bulan impor. Perkembangan ini menunjukkan konsumsi domestik dan ketahanan eksternal masih relatif kuat di tengah meningkatnya volatilitas pasar global.
Pada pasar komoditas, harga Brent menguat lebih dari 8% sepanjang pekan menjadi US$104,61 per barel. Kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta gangguan pasokan energi. Di sisi lain, harga Newcastle Coal melemah sekitar 1,3% menjadi US$146,75 per ton.
Pergerakan komoditas energi yang diikuti oleh sektor energi IHSG yang terkoreksi tipis 0,36% menunjukkan bahwa lonjakan harga minyak belum memberikan penguatan secara merata terhadap saham energi domestik.