Weekly Market Update | WEEK 2 JUNE '26

Publikasi Artikel Investasi, Berita Pasar, dan Edukasi Investor dari Danapathi Asset Management.

Riset
Berita
08 Jun 2026
Weekly Market Update | WEEK 2 JUNE '26

Weekly Market Update | WEEK 2 JUNE '26

Jakarta, Danapathi.co.id

Weekly Market Update: Ketegangan Geopolitik dan Meredanya Euforia AI Membayangi Pasar Global

08 Juni 2026

Sentimen Risk-Off Kembali Mendominasi Pasar Global

Pasar keuangan global memasuki pekan ini dengan tekanan yang cukup signifikan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan mulai meredanya optimisme terhadap sektor kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang selama ini menjadi pendorong utama reli pasar saham global.

Eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran di sekitar Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Ketidakpastian tersebut mendorong aksi jual di sejumlah bursa saham kawasan Teluk, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Kuwait, sekaligus meningkatkan minat investor terhadap aset-aset safe haven.

Di sisi lain, reli saham berbasis AI yang telah berlangsung dalam beberapa kuartal terakhir mulai kehilangan momentum. Koreksi terjadi di berbagai pasar utama, khususnya pada sektor teknologi di Korea Selatan dan Taiwan. Sentimen semakin tertekan setelah prospek bisnis Broadcom dinilai kurang memenuhi ekspektasi sebagian investor.

Perhatian pasar juga tertuju pada Wall Street menjelang penawaran umum perdana (IPO) SpaceX yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan pekan ini.

Ketidakpastian global turut mendorong penguatan dolar AS, sementara harga minyak mentah Brent bergerak volatil di kisaran USD93 per barel. Dampak sentimen global tersebut juga dirasakan pasar domestik, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang cukup besar akibat keluarnya dana asing dari pasar keuangan Indonesia.

Insight:
Meningkatnya ketegangan geopolitik dan meredanya euforia AI telah mendorong investor global untuk mengurangi eksposur pada aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman. Kondisi ini menjadi faktor utama yang menekan pasar saham global maupun domestik.

Performa Pasar Saham Global

Amerika Serikat

Bursa saham AS ditutup melemah tajam dengan sektor teknologi dan AI menjadi kontributor utama penurunan. Aksi ambil untung terjadi setelah reli panjang yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

Selain itu, data ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payrolls) yang dirilis lebih kuat dari perkiraan memunculkan kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari ekspektasi pasar. Data ISM Manufacturing PMI yang meningkat ke level 54,0 juga menunjukkan aktivitas manufaktur masih berada dalam fase ekspansi selama lima bulan berturut-turut.

Eropa

Pasar saham Eropa bergerak mixed dengan kecenderungan melemah. Indeks STOXX 600 turun 0,2%, diikuti FTSE 100 Inggris yang melemah 0,2% dan DAX Jerman yang terkoreksi 0,3%. Sementara itu, CAC 40 Prancis ditutup relatif datar.

Pelemahan tersebut dipicu oleh berkurangnya optimisme terhadap sektor teknologi serta belum adanya perkembangan signifikan terkait upaya gencatan senjata di Timur Tengah.

Asia

Pasar saham Asia mengalami tekanan paling besar. Bursa Korea Selatan bahkan sempat menghentikan perdagangan sementara (trading halt) setelah indeks Kospi turun hingga 8%.

Sementara itu, Nikkei 225 Jepang terkoreksi lebih dari 3,8% akibat tekanan pada saham-saham semikonduktor dan perusahaan yang memiliki eksposur besar terhadap rantai pasok AI global.

Insight:
Fokus investor global kini beralih pada prospek inflasi dan arah kebijakan moneter bank sentral utama dunia. Di saat yang sama, risiko geopolitik dan volatilitas harga energi tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

Indonesia Macro Update

Beberapa indikator ekonomi domestik masih menunjukkan kondisi yang relatif solid:

  • BI Rate: 5,25%

  • Deposit Facility Rate: 4,25%

  • Lending Facility Rate: 6,00%

  • Cadangan Devisa: USD144,9 miliar

  • Manufacturing PMI: 50,0

  • Neraca Perdagangan: USD89,1 juta

  • Inflasi: 3,08% YoY

  • Inflasi Inti: 2,59% YoY

  • Ekspor: 21,98% YoY

  • Impor: 22,49% YoY

  • Consumer Confidence Index: 123,0

Namun demikian, tekanan eksternal menyebabkan nilai tukar Rupiah melemah hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada awal Juni 2026.

Sebagai respons, Bank Indonesia meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing serta menerapkan ketentuan baru yang membatasi pembelian tunai valuta asing tanpa underlying maksimal USD25.000 per pelaku per bulan.

Insight:
Meski fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat, perhatian pasar saat ini lebih banyak tertuju pada stabilitas nilai tukar Rupiah. Langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia diharapkan dapat membantu meredam volatilitas yang berasal dari faktor eksternal.

Update Pasar Domestik

IHSG memulai pekan dengan tekanan jual yang cukup besar sejalan dengan meningkatnya sentimen risk-off global. Pelemahan terjadi bersamaan dengan koreksi mayoritas bursa Asia dan penguatan dolar AS.

Tekanan terbesar datang dari saham-saham perbankan dan blue chip yang selama ini menjadi tujuan utama investasi asing. Di tengah meningkatnya kebutuhan deleveraging global, investor asing cenderung mengurangi eksposur pada pasar negara berkembang.

Sebaliknya, saham berbasis komoditas relatif lebih defensif karena masih memperoleh dukungan dari tingginya harga energi global.

Di pasar obligasi dan mata uang, pelaku pasar juga mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap kemungkinan penurunan suku bunga global yang semakin tertunda akibat kuatnya data ekonomi Amerika Serikat.

Insight:
Perhatian pasar mulai bergeser dari faktor domestik menuju risiko eksternal. Selama ketidakpastian global masih tinggi, volatilitas pasar Indonesia berpotensi tetap berlangsung dalam jangka pendek.

US Macro & Policy Outlook

Data ketenagakerjaan terbaru menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja Amerika Serikat masih berada dalam kondisi yang solid. Hal ini memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve belum memiliki urgensi untuk segera memangkas suku bunga.

Pada saat yang sama, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah berpotensi mendorong harga energi lebih tinggi dan mempersulit proses penurunan inflasi global.

Investor saat ini menantikan pernyataan lanjutan dari pejabat Federal Reserve untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan moneter pada semester kedua tahun 2026.

Insight:
Kombinasi dolar AS yang kuat, harga energi yang tinggi, dan ketidakpastian geopolitik masih menjadi tantangan utama bagi pasar negara berkembang dalam jangka pendek.

What to Watch This Week

Beberapa faktor utama yang akan menjadi perhatian investor dalam beberapa hari ke depan antara lain:

  • Pergerakan IHSG di area support psikologis

  • Arus dana asing pada pasar saham dan obligasi

  • Stabilitas nilai tukar Rupiah

  • Pergerakan harga minyak Brent dan WTI

  • Perkembangan konflik Iran–Israel

  • Yield US Treasury

  • Pernyataan terbaru Federal Reserve

  • Data inflasi global

  • Kebijakan Bank Indonesia

  • Perkembangan harga komoditas ekspor Indonesia

Strategy & Outlook

Pasar diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan sensitivitas tinggi terhadap perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global. Namun, koreksi yang terjadi dalam beberapa sesi terakhir mulai membuka peluang bagi investor jangka menengah untuk melakukan akumulasi secara bertahap dan selektif.

Strategi Investasi

  1. Memprioritaskan emiten dengan fundamental kuat dan neraca keuangan yang sehat.

  2. Fokus pada perusahaan yang memiliki eksposur pendapatan berbasis dolar AS.

  3. Melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham blue chip saat volatilitas meningkat.

  4. Menjaga porsi kas yang memadai untuk memanfaatkan peluang pasar.

  5. Mencermati sektor energi dan komoditas yang masih didukung harga global yang tinggi.

  6. Menghindari penggunaan leverage berlebihan hingga volatilitas pasar kembali mereda.

Kesimpulan

Ketidakpastian geopolitik, penguatan dolar AS, dan perubahan ekspektasi suku bunga global menjadi tema utama yang membentuk pergerakan pasar saat ini. Meskipun tekanan jangka pendek masih berpotensi berlanjut, investor tetap dapat memanfaatkan volatilitas untuk membangun posisi pada aset berkualitas dengan pendekatan yang disiplin dan terukur.