Weekly Market Update | WEEK 1 OCTOBER'26

Publikasi Artikel Investasi, Berita Pasar, dan Edukasi Investor dari Danapathi Asset Management.

Riset
Berita
09 Oct 2026
Weekly Market Update | WEEK 1 OCTOBER'26

Weekly Market Update | WEEK 1 OCTOBER'26

Jakarta, Danapathi.co.id

Pasar keuangan domestik ditutup melemah pada Jumat, 2 Oktober 2026, di tengah tekanan pada pasar saham, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS), serta dinamika harga komoditas global. Investor mencermati perkembangan inflasi, kebijakan moneter, dan risiko geopolitik yang masih memengaruhi sentimen pasar.

Pasar Saham

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 205 poin atau 3,28% secara mingguan ke level 6.036,89. Pelemahan terjadi di seluruh sektor, dengan sektor teknologi mencatat penurunan terdalam sebesar 12,45% pada Jumat, seiring meningkatnya tekanan jual di pasar saham.

Nilai jual bersih investor asing (foreign net sell) mencapai Rp5,03 triliun sepanjang awal Oktober. Di tengah tekanan tersebut, investor tetap mencermati perkembangan kebijakan perdagangan global dan dinamika suku bunga AS yang berada pada level tertinggi dalam lebih dari dua dekade.

Pasar Obligasi

Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun meningkat 7,6 basis poin menjadi 7,159% pada awal Oktober. Kenaikan ini terjadi seiring pelemahan harga obligasi pemerintah AS, ketika imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik 5 basis poin menjadi 4,528% setelah sempat menyentuh 5,34% pada September 2022.

Di pasar domestik, imbal hasil SBN tenor 5 tahun naik menjadi 6,57%, sementara tenor 10 tahun meningkat ke 7,159%. Risiko inflasi, harga energi yang masih tinggi, serta kekhawatiran terhadap rasio fiskal menjadi faktor yang turut memengaruhi sentimen investor.

Bank Indonesia juga meningkatkan pembelian SBN di pasar sekunder sebagai salah satu bentuk upaya menjaga stabilitas pasar keuangan setelah sebelumnya memperkuat intervensi di pasar valuta asing pada September.

Pasar Valuta Asing dan Ekonomi

Indeks dolar AS (DXY) menguat sekitar 0,11% dibandingkan minggu sebelumnya ke level 97,87. Penguatan dolar turut menjadi perhatian pelaku pasar di tengah pergerakan mata uang global dan dinamika kebijakan moneter AS.

Dari sisi ekonomi domestik, inflasi tercatat sebesar 3,19% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada September 2026, meningkat dibandingkan 3,28% pada Agustus 2026. Sementara itu, inflasi inti berada di level 3,09% YoY pada September.

Perkembangan inflasi akan tetap menjadi salah satu indikator penting yang dicermati investor dalam menilai arah kebijakan moneter serta prospek pasar keuangan Indonesia ke depan.

Komoditas dan Energi

Harga minyak mentah WTI dan Brent terkoreksi masing-masing sebesar 1,28% dan 2,75% secara mingguan. Koreksi ini terjadi di tengah pemulihan ekspor minyak Persia dan rencana negara-negara G7 untuk melepas cadangan 100 juta barel minyak dari persediaan strategis.

Harga minyak WTI tercatat sebesar US$54,40 per barel, sedangkan Brent berada di level US$57 per barel. Di sisi lain, harga batu bara Newcastle mengalami kenaikan sebesar 1,35% secara mingguan, sementara harga tembaga meningkat 3,8% menjadi US$148,95 per ton pada penutupan minggu pertama Oktober.

Pergerakan harga energi dan komoditas tersebut tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi prospek inflasi, biaya produksi, serta kinerja perusahaan di berbagai sektor.

Kesimpulan

Memasuki awal Oktober 2026, pasar keuangan menghadapi tekanan dari pelemahan IHSG, kenaikan imbal hasil obligasi, dan perubahan harga komoditas global. Investor perlu mencermati perkembangan inflasi, arah kebijakan moneter, serta dinamika geopolitik dalam menentukan strategi investasi.

Dalam kondisi pasar yang berfluktuasi, investor dapat menyesuaikan alokasi aset dengan tujuan investasi, jangka waktu, dan profil risiko masing-masing.