Weekly Market Update | WEEK 3 JUNE '26
IHSG Menguat di Tengah Sentimen Global yang Membaik
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan dengan penguatan signifikan. Pada perdagangan Senin pagi, IHSG melonjak 231 poin atau 3,9% ke level 6.238, sekaligus mencapai posisi tertinggi dalam hampir dua minggu terakhir. Kenaikan ini didorong oleh sentimen positif dari pasar global setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan adanya kesepakatan untuk mengakhiri konflik dengan Iran serta memberikan izin pembukaan kembali Selat Hormuz.
Di dalam negeri, fokus investor tertuju pada rapat kebijakan Bank Indonesia yang akan berlangsung pekan ini. Pelaku pasar memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat setelah sebelumnya menaikkan suku bunga acuan sebesar total 75 basis poin sejak Mei guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Dukungan terhadap penguatan rupiah juga datang dari Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad yang mengimbau masyarakat untuk menjual dolar AS guna membantu memperkuat mata uang domestik.
Meski demikian, optimisme pasar masih dibayangi sikap hati-hati menjelang rilis data aktivitas ekonomi China untuk bulan Mei. Sebagai mitra dagang terbesar Indonesia, perkembangan ekonomi China tetap menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi sentimen pasar domestik. Perlu diperhatikan pula bahwa pasar keuangan Indonesia akan tutup pada hari Selasa sehubungan dengan libur nasional.
Yield Obligasi Turun, Inverted Yield Curve Dinilai Bukan Sinyal Resesi
Pasar obligasi menunjukkan pergerakan yang relatif positif. Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun menjadi 7,17% pada 12 Juni 2026, atau lebih rendah 0,28 poin persentase dibandingkan sesi sebelumnya.
Walaupun mengalami penurunan dalam jangka pendek, secara tahunan maupun bulanan yield masih berada pada level yang lebih tinggi. Dalam satu bulan terakhir, yield meningkat sekitar 0,46 poin persentase dan tercatat 0,47 poin persentase lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menanggapi kondisi inverted yield curve yang saat ini terjadi di Indonesia, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa fenomena tersebut tidak dapat langsung diartikan sebagai sinyal resesi. Menurutnya, kondisi ini muncul karena Bank Indonesia secara aktif menaikkan imbal hasil instrumen jangka pendek melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus menarik arus modal asing.
Purbaya menjelaskan bahwa berbeda dengan banyak negara lain, inverted yield curve di Indonesia saat ini lebih dipengaruhi oleh kebijakan moneter dibandingkan mekanisme pasar murni. Oleh karena itu, investor tidak perlu menganggap kondisi tersebut sebagai indikasi perlambatan ekonomi yang serius.
Rupiah Menguat Seiring Pelemahan Dolar AS
Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan terhadap dolar AS pada awal pekan. Pada 15 Juni 2026, USD/IDR turun menjadi Rp17.724 per dolar AS atau menguat sekitar 0,31% dibandingkan sesi sebelumnya.
Meskipun demikian, tekanan terhadap rupiah masih terlihat dalam jangka waktu yang lebih panjang. Dalam satu bulan terakhir, rupiah masih melemah sekitar 0,32%, sementara secara tahunan depresiasi mencapai 8,84%.
Dari sisi global, Indeks Dolar AS (DXY) bergerak di sekitar level 99,60 dan mendekati posisi terendah dalam satu minggu. Pelemahan dolar dipicu oleh meningkatnya harapan tercapainya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran, yang mengurangi permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS.
Kondisi tersebut memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat dalam jangka pendek. Namun demikian, tantangan domestik dan eksternal masih menjadi faktor yang perlu dicermati karena dapat memengaruhi pergerakan rupiah ke depan.
Penjualan Mobil Nasional Tumbuh, Namun Risiko Nilai Tukar Tetap Menjadi Perhatian
Dari sektor riil, industri otomotif Indonesia menunjukkan perkembangan yang cukup positif. Penjualan mobil baru pada Mei 2026 mencapai 69.219 unit atau meningkat 14,0% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ini merupakan bulan kedua berturut-turut pertumbuhan penjualan kendaraan setelah lonjakan 55,0% yang terjadi pada April.
Meski tren pertumbuhan masih berlanjut, laju kenaikan mulai melambat di tengah tekanan harga yang masih berlangsung. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) juga menyampaikan kekhawatiran terhadap pelemahan rupiah yang berpotensi meningkatkan biaya produksi maupun impor apabila tren depresiasi berlanjut.
Secara kumulatif, selama lima bulan pertama tahun 2026, penjualan mobil nasional tumbuh 12,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi 359.015 unit. Gaikindo menargetkan penjualan mobil baru domestik mencapai 850.000 unit sepanjang tahun 2026, meningkat sekitar 5,8% dibandingkan realisasi tahun 2025 yang mencapai 803.687 unit.
Sementara itu, secara bulanan penjualan mobil mengalami penurunan 14,3% dari 80.776 unit pada April menjadi 69.219 unit pada Mei. Di sisi lain, penjualan ritel kendaraan menunjukkan kinerja yang lebih baik dengan pertumbuhan 16,8% secara bulanan menjadi 71.890 unit.
Outlook
Sentimen global yang membaik akibat meredanya ketegangan geopolitik memberikan dorongan positif bagi pasar keuangan Indonesia, baik melalui penguatan IHSG maupun apresiasi rupiah. Namun, investor tetap perlu mencermati arah kebijakan Bank Indonesia, perkembangan ekonomi China, serta dinamika nilai tukar yang masih menjadi faktor utama penentu pergerakan pasar dalam jangka pendek.
DAM Research