Jakarta, Danapathi.co.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa China menjadi negara penyumbang defisit perdagangan terbesar Indonesia pada kuartal I-2026, disusul oleh Australia dan Prancis. Defisit ini terjadi karena nilai impor dari negara-negara tersebut jauh lebih besar dibandingkan ekspor Indonesia ke sana.
Impor dari China didominasi oleh barang industri seperti mesin, peralatan listrik, dan kendaraan, sementara dari Australia banyak berupa bahan baku seperti logam mulia dan sereal. Adapun dari Prancis, impor mencakup produk bernilai tinggi seperti pesawat dan farmasi. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih bergantung pada impor untuk kebutuhan industri dan teknologi.
Meski mengalami defisit dengan beberapa negara, secara total neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus. Namun, tingginya impor menjadi sinyal penting bahwa ketergantungan terhadap barang luar negeri masih cukup besar dan perlu dikelola agar tidak berdampak negatif pada stabilitas ekonomi ke depan.
Disclaimer: Investasi saham memiliki risiko dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor. Danapathi Asset Management menyusun informasi ini berdasarkan riset internal yang independen dan tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan rekomendasi, ajakan, atau saran untuk melakukan transaksi jual maupun beli efek. Pergerakan harga saham dapat berubah sewaktu-waktu. Keputusan investasi tetap berada di tangan masing-masing investor.
Sumber: nasional.kontan.co.id
Artikel ini dipublikasikan oleh tim Danapathi Asset Management sebagai bagian dari edukasi dan informasi investasi untuk membantu masyarakat memahami layanan dan produk keuangan secara profesional dan terpercaya.