Informasi Detail

Weekly Market Update | WEEK 2 MEI '26

Marketing
Berita
11 May 2026
Weekly Market Update | WEEK 2 MEI '26

Weekly Market Update | WEEK 2 MEI '26

Pasar Global Mulai Stabil di Tengah Risiko Geopolitik

Sentimen pasar global masih dipengaruhi dinamika konflik AS–Iran, dengan investor terus menimbang peluang tercapainya kesepakatan damai terhadap risiko eskalasi lanjutan di kawasan Timur Tengah.

Harga minyak WTI bertahan di sekitar USD 95 per barel meskipun mencatat penurunan mingguan sekitar 7%, seiring pasar menilai gangguan pasokan akibat potensi penutupan Selat Hormuz masih menjadi risiko utama bagi energi global. Di sisi lain, harga emas kembali naik di atas USD 4,720 per ounce dan mencatat kenaikan mingguan lebih dari 2% didorong meningkatnya permintaan aset safe haven.

Sementara itu, data tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan ekonomi masih relatif solid dengan penambahan 115 ribu pekerjaan, jauh di atas ekspektasi pasar sebesar 62 ribu.

Secara umum, pasar global mulai bergerak lebih stabil, namun volatilitas masih tinggi karena investor tetap menghadapi ketidakpastian geopolitik, tekanan harga energi, serta arah kebijakan suku bunga global.

Performa Pasar Saham Global

Pergerakan pasar saham global cenderung mixed dengan bias positif, terutama pada sektor teknologi dan growth di Amerika Serikat.

Indeks Nasdaq 100 mencatat kenaikan mingguan sebesar 5.50%, sementara S&P 500 naik 2.33% secara mingguan. Nikkei 225 juga menunjukkan penguatan signifikan secara year-to-date sebesar 24.58%.

Di sisi lain, pasar Eropa masih bergerak lebih defensif. Indeks DAX turun 1.32%, CAC 40 melemah 1.09%, dan Euro Stoxx 50 turun 1.02% seiring minimnya katalis ekonomi baru dan masih tingginya ketidakpastian geopolitik.

Rotasi sektor mulai terlihat menuju saham teknologi dan growth, terutama di pasar AS, sementara investor global masih cenderung berhati-hati terhadap aset berisiko tinggi.

Kondisi Ekonomi Indonesia

Fundamental domestik Indonesia masih menunjukkan kondisi yang cukup resilien. Hal ini tercermin dari consumer confidence yang berada di level 123.0, pertumbuhan kredit sebesar 9.49% secara tahunan, serta proyeksi retail sales yang masih tumbuh positif.

Pemulihan konsumsi domestik juga terlihat dari peningkatan penjualan kendaraan, dengan penjualan mobil tumbuh 55.0% YoY dan motor tumbuh 28.1% YoY.

Meski demikian, tekanan eksternal mulai meningkat seiring pelemahan rupiah dan menurunnya cadangan devisa dalam beberapa bulan terakhir. Bank Indonesia juga masih mempertahankan suku bunga acuan di level 4.75% untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi.

Pergerakan IHSG

IHSG sempat melemah tipis ke level 7,167 setelah meningkatnya kembali tensi konflik AS–Iran yang memicu koreksi di Wall Street dan menekan sentimen global.

Pelaku pasar domestik juga cenderung berhati-hati menjelang rilis data cadangan devisa dan sejumlah indikator ekonomi penting Bank Indonesia, termasuk consumer confidence, retail sales, serta stabilitas nilai tukar rupiah.

Tekanan pasar terutama berasal dari sektor basic materials, property, dan non-cyclicals. Beberapa saham yang menjadi top laggards antara lain Merdeka Copper Gold, Elang Mahkota Teknologi, Pertamina Geothermal, dan Hartadinata Abadi.

Meski demikian, IHSG masih mencatat penguatan mingguan sekitar 2.4%, didukung oleh aksi bargain hunting, pertumbuhan ekonomi kuartal pertama yang tetap solid, serta inflasi yang relatif terkendali.

Dalam jangka pendek, pergerakan IHSG diperkirakan masih volatil dan sensitif terhadap perkembangan global. Namun fundamental domestik yang relatif stabil mulai memberikan ruang untuk rebound secara terbatas.

Outlook The Fed dan Komoditas

Data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari ekspektasi memperkuat pandangan bahwa ekonomi AS masih cukup solid meskipun suku bunga tetap tinggi.

The Fed diperkirakan masih akan berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan suku bunga, terutama karena tekanan inflasi energi berpotensi meningkat apabila konflik Timur Tengah kembali memanas.

Di pasar komoditas, harga emas masih ditopang permintaan safe haven, sementara minyak bertahan tinggi akibat risiko gangguan distribusi energi global. Harga batu bara sendiri mulai mengalami penurunan menuju USD 130 per ton seiring melemahnya permintaan impor LNG Asia.

Strategy & Outlook

Pasar diperkirakan masih bergerak volatil dalam jangka pendek dengan sentimen utama berasal dari perkembangan geopolitik, arah dolar AS, dan ekspektasi kebijakan suku bunga global.

Dalam kondisi seperti ini, investor disarankan tetap menjaga diversifikasi dan fokus pada instrumen investasi yang memiliki fundamental kuat serta profil risiko yang sesuai dengan tujuan investasi masing-masing.

Danapathi Asset Management melihat instrumen pasar uang masih menarik untuk menjaga stabilitas portofolio dan likuiditas di tengah volatilitas global yang masih tinggi. Reksa dana pasar uang dapat menjadi pilihan bagi investor dengan profil risiko konservatif maupun investor yang ingin melakukan positioning sementara sambil menunggu momentum pasar yang lebih optimal.

Di sisi lain, reksa dana balanced fund juga mulai menarik untuk dipertimbangkan secara bertahap, terutama bagi investor dengan horizon investasi menengah hingga panjang. Potensi rebound pasar saham domestik yang mulai terlihat, ditambah fundamental ekonomi Indonesia yang relatif stabil, dapat memberikan peluang pertumbuhan yang lebih baik ketika sentimen global mulai membaik.

Strategi investasi tetap perlu dilakukan secara selektif dengan memperhatikan perkembangan pasar dan kondisi ekonomi global secara berkala.

DAM Research

Penulis Artikel

Marketing

Artikel ini dipublikasikan oleh tim Danapathi Asset Management sebagai bagian dari edukasi dan informasi investasi untuk membantu masyarakat memahami layanan dan produk keuangan secara profesional dan terpercaya.

Dipublikasikan: 11 May 2026
Informasi Resmi
Hubungi Kami