23 April 2026 14:22
Pasar global kembali mengalami volatilitas tinggi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS–Iran di Selat Hormuz. Situasi ini memicu lonjakan harga energi serta meningkatkan risiko inflasi global.
Harga minyak WTI naik sekitar 8% hingga menembus USD 90 per barel, sementara emas terkoreksi lebih dari 1% ke bawah USD 4,800/oz, seiring ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama.
Insight:
Lonjakan harga energi mencerminkan energy supply shock yang berpotensi mendorong inflasi global lebih tinggi serta menekan prospek pertumbuhan ekonomi dunia.
Pasar saham Asia tetap menunjukkan ketahanan di tengah tekanan global:
Penguatan terutama didorong oleh sektor teknologi dan AI, khususnya semikonduktor, meskipun risiko geopolitik masih menjadi sentimen utama.
Insight:
Pasar masih resilien, namun volatilitas diperkirakan meningkat terutama pada negara importir energi.
Insight:
Fundamental domestik masih solid, namun tekanan eksternal dari penguatan USD dan kenaikan harga minyak mulai memberikan tekanan terhadap Rupiah.
Kenaikan inflasi global kembali memperkuat narasi higher for longer, sehingga ruang penurunan suku bunga The Fed dalam jangka pendek menjadi semakin terbatas.
Kenaikan tajam harga minyak dipicu gangguan distribusi akibat eskalasi konflik di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia.
Fokus ke depan:
Perkembangan geopolitik dan potensi negosiasi akan menjadi faktor utama penentu arah harga energi global.
Volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek, dipengaruhi oleh eskalasi geopolitik global, lonjakan harga energi, serta ekspektasi kebijakan moneter ketat di negara maju.
Rekomendasi Produk:
Dalam kondisi ini, Danapathi Asset Management tetap menekankan strategi investasi yang selektif pada aset berfundamental kuat, menjaga likuiditas yang sehat, serta melakukan diversifikasi lintas kelas aset untuk mengoptimalkan risiko dan peluang di tengah ketidakpastian pasar.
Sumber Berita : Trading Economics & Team DAM